Peran Palembang sebagai Pusat Kebudayaan Islam
Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh,
Sudah menjadi pengetahuan umum mengenai peran masyhur kerajaan Sriwijaya dengan ibukotanya—yang pernah berada di—Palembang sebagai pusat keagamaan Buddha sedunia. Sedangkan bagi pusat keagamaan Islam, yang muncul di benak kita saat memikirkannya sudah tentu Aceh. Namun, di dunia ini tidak ada yang abadi selain Tuhan Yang Maha Esa, begitu pula pengaruh Aceh yang merosot pasca kemangkatan Sultan Iskandar Thani.
Hal yang mengejutkan adalah bagi Sumatra, kedudukan Aceh kemudian digeser oleh wilayah dari selatan yang comeback dari kejatuhannya untuk menjadi pusat keagamaannya untuk kali kedua. Ya, Palembang juga pernah menjadi pusat keislaman yang penting dalam sejarah Nusantara! Sayangnya, peran kampung halaman Parameswara—sang pendiri Kesultanan Melaka—sebagai pusat Islam ini kurang diketahui oleh ramai orang. Karena itulah di sini penulis akan membahas mengenai peran mantan ibukota Sriwijaya ini yang bertransformasi menjadi pusat keagamaan Islam yang gemilang.
Akar Sejarah: Jejak Awal Islam dan Jaringan Serumpun di Bumi Sriwijaya
Sebelum membahas Kesultanan Palembang Darussalam, kita tidak boleh melupakan masa transisi yang krusial. Runtuhnya Sriwijaya tidak lantas membuat Palembang mati. Berdasarkan catatan sejarah, proses Islamisasi di Palembang telah berlangsung jauh sebelum berdirinya Kesultanan secara resmi.
Menurut Prof. Dr. Hamka dalam Sejarah Umat Islam, Islam mulai masuk dan berkembang secara signifikan di Palembang melalui pengaruh Kesultanan Demak pada sekitar tahun 1440. Hubungan Palembang dan Jawa (Demak) sangatlah erat. Sejarahwan Slamet Muljana dalam Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa juga mencatat bahwa pada abad ke-15, Palembang memiliki komunitas Muslim Tionghoa yang kuat di bawah pimpinan Arya Damar (Swan Liong). Dari Palembang pulalah lahir Raden Patah, sosok yang kelak bermigrasi ke tanah Jawa dan mendirikan Kesultanan Demak—kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Hal ini membuktikan bahwa Palembang berfungsi sebagai jembatan serumpun yang vital dalam jaringan Islamisasi antara Sumatera, Semenanjung Melayu, dan Jawa.
Kawasan-kawasan sakral peninggalan era Sriwijaya pun perlahan mengalami proses Islamisasi. Contohnya adalah Bukit Sabokingking yang dulunya merupakan kawasan suci era Hindu-Buddha, kemudian diadaptasi menjadi kompleks pemakaman tokoh-tokoh awal Islam Palembang, menunjukkan akulturasi budaya yang berjalan damai.
Kebangkitan Palembang
|
| Ilustrasi kota Palembang saat diserang oleh VOC di era Pangeran Seda ing Rejek |
Motivasi yang memicu kebangkitan Palembang untuk menjadi sebuah kesultanan yang berpengaruh adalah konflik dengan VOC Belanda pada masa pemerintahan Pangeran Seda ing Rejek. VOC melakukan tindakan-tindakan monopoli yang tidak disenangi oleh baginda saat kompeni bercokol di pelabuhan Palembang. Peperangan pun berlaku yang sayangnya menempatkan VOC sebagai pemenang.
Sebagai pemimpin kerajaan yang masih lemah pada masanya, penerus takhta Palembang yaitu Ki Mas Hindi kemudian berusaha membangkitkan kembali Palembang. Ia menjalin hubungan diplomasi yang cerdik serta membuat kontrak dengan VOC Belanda untuk meredakan permusuhan. Pada masa Ki Mas Hindi inilah Palembang secara resmi memproklamirkan diri sebagai sebuah kerajaan Islam yang berdaulat penu tatkala baginda mengubah gelar "Ki" atau "Pangeran" menjadi "Sultan".
Baginda mulai menggunakan gelar Sultan Abdurrahman Khalifatul Mu'minin Sayyidul Imam sejak tahun 1675. Penggunaan gelar sultan ini bukan hanya penegasan identitas keislaman, tetapi juga bermaksud untuk memerdekakan Palembang dari bayang-bayang hegemoni Mataram di Jawa, serta menempatkan posisi kedaulatan Palembang setara dengan kerajaan-kerajaan besar lainnya.
Dengan agama Islam sebagai agama resminya, ajaran-ajaran Islam lambat laun meresap ke dalam kehidupan adat Melayu-Jawa serta menjadi acuan dasar dalam penataan istana. Di bawah pemerintahan Sultan Abdurrahman selama 40 tahun (1662-1706), Palembang berhasil menegaskan kepada dunia bahwa mereka mampu menguatkan kedaulatannya di tengah goncangan kuasa Barat. Wilayah kedaulatan Kesultanan Palembang pada masa itu merangkumi seluruh provinsi Sumatera Selatan dan Bangka Belitung modern, serta sebagian dari Bengkulu dan Lampung.
Ulama dan Intelektual Islam
Pergaulan bangsa Arab dengan warga Palembang yang terjadi sejak era Sriwijaya telah menjadikan mereka diterima dengan baik dalam lingkungan istana. Semenjak berdirinya kesultanan Islam, para Sultan Palembang terus berusaha menarik perhatian para ulama, terutama dari Timur Tengah (Haramayn), untuk menetap di Palembang. Menurut sejarawan Barbara W. Andaya, pertumbuhan komunitas Arab di Palembang pada abad ke-18 memperkuat koneksi Palembang dengan jantung peradaban Islam di Timur Tengah.
Para ulama memiliki kedudukan istimewa di istana, salah satunya sebagai penasihat sultan yang diberi gelar Pangeran Nata Agama. Misalnya, penasihat Sultan Abdurrahman adalah Kyai Kiagus Khotib Komad yang merupakan ahli tafsir al-Qur’an dan fikih. Kedekatan ulama dan umara ini dibuktikan secara fisik dengan lokasi makam-makam ulama yang senantiasa berdampingan dengan makam-makam sultan.
Dukungan keraton terhadap ilmu pengetahuan menjadikan Palembang pusat kebudayaan Islam terkemuka yang mampu menggeser dominasi Aceh pada abad ke-18. Istana Kesultanan Palembang memiliki perpustakaan keraton yang sangat lengkap dan rapi. Di sinilah lahir karya-karya ilmiah keagamaan yang sangat produktif dalam bidang ilmu tauhid, ilmu kalam, tasawuf, tarekat, tarikh, dan penafsiran Al-Qur'an.
Beberapa ulama dan penulis kitab agama terkemuka dari Palembang antara lain:
- Syuhabuddin bin Abdullah Muhammad al-Falimbani
- Kemas Fakhruddin al-Falimbani
- Abdussamad al-Falimbani
- Muhammad Muhyiddin bin Syekh Syihabuddin
- Kemas Muhammad bin Ahmad
- Sultan Mahmud Badruddin II
- Pangeran Panembahan Bupati
- Muhammad Ma`ruf bin Abdallah
- Ahmad bin Abdallah
- Kiyai Rangga Setyanandita Ahmad
Jasa dan Peran Sultan
Segala usaha kegiatan budaya Islam ini tidak akan berarti tanpa adanya patronasi (dukungan) kuat dari para sultan. Dari awal, sultan-sultan Palembang memiliki minat yang amat besar terhadap bidang agama. Nilai tradisi Islam melonjak pesat ketika Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo (1724-1758) membangun Masjid Agung Palembang. Masjid yang memadukan arsitektur Melayu, Jawa, Tiongkok, dan Eropa ini hingga saat ini menjadi salah satu masjid bersejarah terbesar di Sumatera. Pembangunan masjid ini difungsikan untuk mempermudah kegiatan keilmuan dan sosial masyarakat yang sebelumnya hanya bertumpu di dalam tembok istana.
Selain itu, para pengarang kitab tidak hanya terdiri dari kalangan ulama murni, melainkan juga dari kalangan sultan sendiri. Sultan Mahmud Badaruddin II (1804-1821) adalah contoh puncaknya. Sejak kecil, baginda telah berguru kepada banyak ulama, termasuk Syekh Abdussamad al-Falimbani. O.W. Wolters dan banyak sejarawan lain mencatat bahwa Sultan Mahmud Badaruddin II bukan hanya seorang pahlawan perang yang gigih melawan penjajahan Belanda dan Inggris, melainkan juga sosok yang cerdik, cendekiawan, organisator, diplomat ulung, dan memiliki minat yang sangat tinggi dalam dunia kesusastraan Melayu-Islam.
Kesimpulan
Meski pada akhirnya Kesultanan Palembang di bawah pimpinan Sultan Mahmud Badaruddin II berhasil diruntuhkan oleh Belanda pada tahun 1821 dan diasingkan ke Ternate, nilai-nilai keislaman dan kebudayaan Melayu telah disuntikkan secara permanen ke dalam nadi rakyat Palembang.
Kejayaan intelektual dan tradisi yang ditinggalkan menjadikan identitas Palembang menyatu ke dalam identitas dunia Melayu serumpun yang identik dengan Islam. Pepatah "Adat bersendi Syarak, Syarak bersendi Kitabullah" juga menggema di sini. Kuatnya perpaduan identitas ini memunculkan istilah di masa lalu bahwa apabila seseorang masuk ke dalam agama Islam, maka ia disebut "Masuk Melayu". Begitu pula sebaliknya, jika seseorang keluar dari Islam, maka secara kultural ia dianggap keluar dari identitas Melayunya. Palembang telah membuktikan dirinya tidak hanya sebagai pewaris kebesaran maritim Sriwijaya, tetapi juga sebagai jantung peradaban dan kebudayaan Islam di Nusantara
Daftar Pustaka
Azra, Azyumardi. 2013. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII: Akar Pembaruan Islam Indonesia. Jakarta: Prenada Media.
Faturrahman, Oman & Jajat Burhanudin. 2011. “Tradisi dan Wacana Intelektual Islam” dalam Indonesia dalam arus sejarah : Jilid 3 (Kedatangan dan Peradaban Islam), 144-179. Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve.
Hadi WM, Abdul, dkk. 2015. Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 1: Akar Historis dan Awal Pembentukan Islam. Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.
Hamka. 2002. Sejarah Umat Islam. Singapura: Pustaka Nasional Pte Ltd.
Nawiyanto & Eko Crys Endrayadi. 2016. Kesultanan Palembang Darussalam: Sejarah dan Warisan Budayanya. Jember: Jember University Press.
Winstedt, R.O. 1958. A History of Classical Malay Literature, dalam Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society (JMBRAS), Vol. 31.
Yusoff, Hasanuddin. 2020. Raudhatus Salatin: Sultan-Sultan Soleh di Alam Melayu. Seremban: Alami.




Komentar
Posting Komentar